Review Korean Movie Cart





Judul                                    : Cart (Hangul : 카트)
Tanggal Rilis                        : 7 September 2014 (Toronto International Film Festival)
                                               13 November 2014 (Korea Selatan)
Sutradara                             : Boo Ji-young
Produser                               : Jamie Shim
Penulis Naskah                    : Kim Kyung-chan
Durasi                                   : 110 menit
Negara                                  : Korea Selatan
Bahasa                                  : Korea
Perusahaan Produksi           : Myung Films
Distributor                            : Little Big Pictures
Pemain                                  :
  • Yum Jung-ah sebagai Sun-hee
  • Moon Jung-hee sebagai Hye-mi
  • Kim Young-ae sebagai Soon-rye
  • Kim Kang-woo sebagai Dong-joon

  • Do Kyung-soo sebagai Tae-young

  • Hwang Jeong-min sebagai Ok-soon

  • Chun Woo-hee sebagai Mi-jin

  • Lee Seung-joon sebagai Manajer Choi
  • Ji Woo sebagai Soo-kyung (Teman sekelas Tae-young)
  • Park Soo-young sebagai Manager
  • Song Ji-in sebagai Ye-rin
  • Hwang Jae-won sebagai Min-soo (Anak laki-laki Hye-mi)
  • Kim Soo-an sebagai Min-young (Adik perempuan Tae-young)
  • Kim Hee-won sebagai Bos mini market (cameo)
  • Kil Hae-yeon sebagai pelanggan (cameo)
Plot :
Film Cart bercerita tentang Pasar Swalayan The Mart yang memiliki masalah dengan para pekerjanya karena kebijakan untuk merumahkan (PHK) yang dikeluarkan secara sepihak dan mendadak. Para pekerja tidak tetap, yang sebagian besar wanita, rencananya akan digantikan oleh pekerja outsourcing. Masalah semakin menjadi karena sebelumnya pimpinan perusahaan menjanjikan ke pekerja tidak tetap dengan masa kerja yang mencukupi untuk dijadikan pekerja tetap. Nah, kedepannya film ini akan menceritakan perjuangan para pekerja untuk menuntut haknya ke pihak pasar swalayan..

Menurut aku sih, setiap adegan dan alur ceritanya relevan di kehidupan kita. Nggak terlalu fiktif banget, meskipun memang ada efek dramatisirnya, ya, hehehe. Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata, lho. Penulisan naskah film ini terinspirasi dari kasus PHK besar-besaran oleh Pasar Swalayan Homever pada tahun 2007. Para pekerja dan buruh yang tidak terima, membentuk serikat pekerja dan melakukan protes di depan swalayan selama 512 hari. WOW! Secara garis besar cerita di film ini dibuat nggak jauh beda sama kejadian nyata.

Adegan pertama film ini menunjukkan prosesi briefing atau semacam apel pagi sebelum swalayan buka. Di awal film udah jelas siapa tokoh utamanya. Yap! Han Sun-hee. Waktu apel, pimpinan perusahaan menjadikan Sun-hee sebagai contoh ke pekerja lain sampe disuruh maju ke depan segala. Awalnya aku kira dia bakalan ditegur atau dimarahin, wkwkwk.

Sun-hee sudah bekerja selama 5 tahun tanpa ada catatan pelanggaran sama sekali. Awal kerja sebagai sales kemudian jadi penjaga kasir, sering kerja lembur, dan dijanjikan setelah 3 bulan di bagian customer service center akan dijadikan pekerja tetap. Pimpinan menjanjikan hal yang sama ke semua pekerja tidak tetap, asalkan mereka bekerja keras. Dari sinilah para pekerja, termasuk Sun-hee, berharap bakal jadi pekerja tetap suatu hari nanti dengan gaji yang lebih tinggi. 



Selanjutnya perkenalan tokoh utama mulai ke kehidupan pribadinya. Sun-hee diceritakan punya dua anak, sedangkan suaminya kerja di luar kota. Anak laki-lakinya, Tae-young, pengen punya hape baru. Si Tae-young ini termasuk golongan kurang mampu di sekolahnya. Model hapenya masih jadul dan nanti diceritakan Tae-young sampe nggak makan siang karena Ibunya belum bayar iuran makan siang. Selain itu, Min-su juga diceritakan butuh dana untuk beli alat sekolah. Nggak se-urgent si Kakak, sih, tapi Sun-hee tetep berusaha mencukupi segala kebutuhan anaknya.

Sejujurnya aku nonton film ini karena menunggu seseorang, hehehe, dan di scene ini akhirnya dia keluar juga, hahaha. Itu tuh si D.O. (Waktu itu umurnya udah 21 tapi masih cocok aja pake seragam SMA, mana kayak anak kecil lagi, hadeh, Kyungsoo oppa XD) Fangirl detected


Fokus! Okay, kita bukan mau bahas D.O. yaaaaa hehehe

Scene – scene selanjutnya menjelaskan tentang masalah kehidupan yang dialami keluarga kurang mampu dan nasib pekerja yang sering banget direndahkan. Seperti yang udah aku sampein sebelumnya kalau Tae-young bahkan sampai nggak makan siang karena iuran makan siang belum dibayar, ditambah lagi kehadiran Soo-kyung yang bilang kalo mereka termasuk golongan bawah di sekolah karena masih pakai hape model flip.

Tapi yang bikin miris adalah saat Hye-mi harus berlutut minta maaf di depan pelanggan yang dicurigai mengutil. Sebenarnya , menurutku, Hye-mi nggak salah karena dia cuma menjalankan prosedur. Dia nggak beruntung aja karena pelanggan itu kebetulan golongan atas.


Aku kira cukup sampai disitu aja aku harus merasa kasihan sama Hye-mi. Tapi ternyata setelah itu...


Gara-gara sempet dihukum Hye-mi jadi telat jemput anaknya. HUUUAAAAA I feel you, dek. Entah kenapa aku langsung sedih padahal scene itu sederhana banget. Cuma aku jadi kebayang aja misalnya anak kecil seumuran Min-soo harus nunggu jemputan sendirian, di luar, dan temen-temennya dah pada pulang... serem :(

Selanjutnya kita bahas ke inti permasalahan di film ini. Tiba-tiba ada pengumuman dari perusahaan kalau akan ada PHK besar-besaran dan para pekerja tidak tetap digantikan oleh outsourcing. Kondisi langsung nggak kondusif karena pihak perusahaan cuma diem aja dan nggak ngasih kejelasan tentang nasib pekerja. Di adegan ini muncul salah satu pihak perusahaan yang tampak peduli sama pekerja tapi nggak bisa berbuat apa-apa yaitu Manajer Kang Dong-joon.



Di film ini, dijelaskan bahwa si Manajer Kang Dong-joon memihak pihak pekerja yang di-PHK. Sosok Dong-joon memang berbeda dari pekerja tetap lain di swalayan itu. Bahkan dia rela berjuang bersama para pekerja, mulai dari jalur hukum sampai unjuk rasa untuk memprotes kesewenang-wenangannya pihak swalayan.



Kalo aku rate film ini dapet 8 dari 10. Nonton film ini bikin aku menempatkan diri diberbagai situasi dan kondisi yang dihadapi tiap pemainnya. Penonton harus menempatkan diri sebagai seorang tulang punggung keluarga dengan tanggungan anak atau biaya kehidupan lainnya, sementara kita tetap dipaksa loyal dengan teman-teman seperjuangan. Situasi yang bikin bimbang kayak gini banyak banget ditampilkan dan memberi kita banyak pelajaran tentang indahnya bersyukur tentang apa yang kita miliki.


 



Tapi film ini nggak tentang sedih-sedihan aja lho. Ada beberapa hal kecil yang bikin kita seneng di kehidupan sehari-hari yang ditampilkan dengan baik di film ini. Contohnya waktu Tae-young dan Soo-kyung akhirnya temenan karena kesamaan kondisi ekonomi. 



Ada juga saat-saat para pekerja harus demo menduduki swalayan tapi mereka tetep happy karena memiliki satu sama lain, dan bahkan menertawakan ironi kehidupan mereka bareng-bareng. Khusus scene itu, aku dapet banget feel-nya dan kagum sama sutradaranya. Good job!



Aku rasa sampe sini aja reviewnya. Nggak mau cerita banyak-banyak, ah. Tonton aja sendiri, hahaha. Bye bye, and see you soon. And i promise, i will, of course, write another movie review for my blog!

Komentar